Kab. Agam, Zona Merah Putih [OPINI] – Di lapau, Kopi talua baru diseruput, cerita KONI Agam sudah mendidih. “Aduah, dima pulo ujungnyo ko?”.
Seorang bapak mengaduk kopi. Seorang lagi mengaduk isu. Bedanya, kopi bisa diminum, isu kadang bikin batagak bulu kuduk.
“Jan banyak bana gaya, Dabot. Atlet tu butuh solusi, bukan drama!”
Begitulah bunyi obrolan lapau yang mungkin terdengar sederhana. Tapi pesannya ndak sederhana. KONI Agam tu rumah Olahraga.
Bukan Rumah Gadang untuk saling maniliak dari jendela, lalu sibuk bertanya siapa paling punya kunci.
Atlet mau latihan. Target Porprov menunggu. Waktu terus berjalan.
Sementara polemik, kalau dipelihara, bisa tumbuh subur macam padi di sawah. Indak ditanam, Tapi tumbuah juo.
Nan paliang Gacornyo, Kalau para Pengurus sibuk bakar ego, Atlet pula yang disuruh menanggung asapnya. Kemana pula pergi benaknya.
Apo ndak malu?, Kato urang awak, “Duduak Samo Randah, Tagak Samo Tinggi”.
Lain dulu, lain pula sekarang. Sudah tak ada bulu, benaknya jangan pula lah lengang.
Jadi, kalau memang sama-sama ingin Olahraga Agam maju, duduaklah!, Bawo goyang supayo jan tagang.
Aduk kopi. Rapatkan Kursi. Nan keras dilunakkan. Nan kusuik diurai. Ingat, hidup ini pada akhirnya mati.
Kalau perlu, sebagai orang yang alah dewasa, Jauhkan ego masing-masing, kapan perlu dititipkan dulu di parkiran.
Sebab jabatan itu indak kekal. Hari ko urang duduk di kursi. Besok kursi bisa berganti penghuni.
Tapi nama baik Organisasi dan nasib para Atlet Agam, Itu yang tinggal lama mangana kurenah Pak Ketua yang semakin menua.
Istirahatlah. Ibalah sama raga yang sudah renta. Jan dengar juga tukang bisiak yang gila hembuskan nada miring itu.
Dek dia apalah. Ketua juga nanti nan akan dicibirnya. Maka jangan sampai masyarakat Agam akhirnya berpantun:
Pai mancari medali,
Pulang mambao polemik.
Atlet sibuk mengejar prestasi,
Pengurus sibuk mengejar titik balik.
Aduah dong! Tolong! Jan sampai KONI Agam jadi tontonan. Yang seharusnya satu barisan, jangan malah bakawan di muko, barabuik di balakang.
Kalau ada Carateker, Duduk bersama. Kalau ada Pengurus, duduk bersama. Kalau ada Pemerintah Daerah, mari bicara.
Nan penting bukan siapa menang. Nan penting Olahraga Agam jangan kalah.
Karena di ujung cerita, masyarakat tidak akan bertanya siapa paling pandai berdebat.
Mereka akan bertanya. “Medali Agam barapo?”, Nah, kalau pertanyaan itu sudah datang, Kopi lapau pun mungkin mendadak terasa pahit.
Penulis: Mak Julay (Ade.A)







