Kota Padang, Zona Merah Putih – Dunia maya Sumatera Barat kembali mendapat “menu tambahan”. Bukan rendang, bukan lamang tapai, tapi sebuah video yang mendadak beredar di media sosial dan bikin jempol Netizen bekerja lembur.

Video yang disebut memperlihatkan dua orang diduga ASN tengah bermesraan di sebuah ruangan kantor itu ramai dibicarakan.

Bahkan, sejumlah unggahan menyebarkannya melalui TikTok dan Media Sosial lainnya. Namun, Identitas pemeran serta lokasi dan konteks rekaman masih menunggu proses Verifikasi.

Yang membuat cerita ini makin “gurih”, di belakang adegan tersebut tampak foto Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasko Ruseimy. Iya. Uda Vasko banyak orang menyapanya.

Nah, Makin menariknya. Foto Vasko yang biasanya cuma nongkrong manis di dinding, tiba-tiba dapat Job tambahan sebagai pemeran figuran tanpa Honor.

Diam. Tidak berkedip.Tidak berkomentar. Tapi masuk frame. Aduah, Pak Vasko! Kalau fotonya bisa mengadu, mungkin sudah bilang: “Ambo cuma dipasang di dinding, kok malah disuruh jadi saksi”.

Dari konten kerja, fotonya pun ikut dapat konten bonus. Vasko sendiri dikenal aktif membagikan berbagai aktivitasnya melalui Kanal dan Media Mosial.

Aktivitas publiknya juga kerap mendapat perhatian Warganet. Misalnya, pernah memberitakan unggahan Vasko saat turun langsung membantu warga terdampak banjir.

Maka, ketika fotonya secara tidak sengaja masuk ke latar Video Viral, Netizen tentu punya bahan baru untuk bercanda.

Konten hari ini, Kerja. Konten besok, turun lapangan. Konten bonus, foto ikut terseret jadi saksi bisu drama kantor.

Kalau begini caranya, Algoritma Media Sosial pun mungkin ikut garuk kepala. “Ini konten Pemerintahan atau Konten FYP?”, iyo ndak?

Foto Wagub Vasko kali ini jadi saksi paling hemat bicara. Dalam dunia Hukum, saksi biasanya harus bicara. Dalam dunia media sosial, foto Vasko justru punya posisi paling aman.

Dia tidak memberikan komentar. Tidak melakukan wawancara. Tidak membuat klarifikasi. Tidak menekan tombol Like. Cuma berdiri di dinding.

Tapi gara-gara Video Viral, mukanya ikut masuk dalam cerita. Saksi bisu paling santai se-Sumbar. Orang lain sibuk menjelaskan. Foto Wagub tetap: “Ambo indak tahu apo-apo”. Hehehe.

Kalau benar ada tindakan tidak pantas di ruang kerja, persoalannya tentu bukan lagi sekadar bahan tertawaan.

Sebab kantor Pemerintah adalah tempat pelayanan Publik. Ada etika, Disiplin dan Tanggung jawab yang harus dijaga.

Jangan sampai masyarakat datang membawa urusan Administrasi, tetapi yang ditemukan malah Episode terbaru sinetron “Cinta di Balik Meja Dinas”.

Warga: “Pak, surat kami sudah selesai?”, Pegawai: “Belum, Bu. Ceritanya baru masuk episode tujuh.” Waduh!

Dalam budaya Minang ada ungkapan, “Dima bumi dipijak, di sinan langik dijunjuang”. Artinya sederhana, tahu tempat, tahu aturan, tahu batas. Kantor itu tempat bekerja.

Kalau hati sedang berbunga-bunga, jangan sampai Meja Birokrasi berubah menjadi meja Kafe Asmara.

Vasko dapat “bonus exposure”?. Nah, ini bagian yang paling nyeleneh. Karena Vasko sendiri cukup aktif di Media Sosial, mungkin saja Algoritma sedang bekerja dengan cara yang sangat Absurd.

Biasanya orang membuat konten supaya dapat View. Sekarang, malah foto di dinding yang dapat View.

Bayangkan kalau sistem TikTok bisa mengirim Notifikasi, “Selamat! Foto Anda berhasil masuk FYP tanpa membuat satu Konten pun”.

Vasko mungkin tinggal duduk sambil berkata: “Lah, ambo kan indak posting video iko?”. Algoritma: “Maaf, Pak. Foto Bapak sudah punya karier sendiri”. Tapi tentu saja, jangan salah kaprah.

Viralnya foto Wakil Gubernur Sumatera Barat, bukan berarti Vasko Ruseymi terlibat dalam kejadian tersebut.

Tidak ada dasar untuk menghubungkan Wagub dengan tindakan dua orang yang terekam dalam video hanya karena fotonya berada di ruangan itu.

Sejumlah pemberitaan juga menegaskan bahwa Identitas dan konteks kejadian masih menunggu Verifikasi resmi.

Jadi, yang boleh disindir adalah situasinya. Bukan menuduh orang yang fotonya kebetulan ada di belakang.

TikTok dan Media Sosial lainnya hanyalah Tempat CCTV yang bisa berubah jadi bahan gunjingan Digital. Inilah zaman baru. Dulu kalau ada cerita aneh di kantor, paling cepat hanya sampai ke Lapau.

Sekarang?, Belum sempat Kopi Talua dingin, sudah masuk TikTok, sudah ada di Facebook. Belum selesai dibicarakan urang Surau, sudah jadi bahan komentar Netizen yang budiman.

Satu orang unggah. Yang lain Repost. Yang ketiga kasih Musik. Yang keempat kasih Caption. Yang kelima merasa paling tahu. Yang keenam membuat Analisis 12 menit.

Kemudian berkata, “Menurut sumber terpercaya…”. Padahal sumbernya, “Dari grup WhatsApp sebelah”, Amboi. Begitulah media sosial. Kadang fakta berjalan Kaki, sementara gosip sudah naik Motor.

Pelajaran yang bisa dipetik dari foto yang tidak bisa bicara. Terlepas dari segala kelucuan, kasus ini semestinya menjadi pengingat.

Bahwa Pejabat dan ASN apalagi seorang Eselon, punya ruang privat, tetapi ketika berada di ruang kerja Pemerintah, ada Standar Etika yang harus dijaga.

Dan bagi Netizen, Viral bukan berarti benar. Video bisa Viral dalam hitungan menit. Klarifikasi bisa membutuhkan waktu.

Karena itu, jangan sampai Jempol lebih cepat daripada Otak. Dalam bahasa Lapau, “Jan dek rancak Caption, Fakta dilupokan”.

Jangan gara-gara Caption bagus, fakta ditinggalkan. Sementara itu, foto Vasko di dinding, Biarkan saja dia menjalankan tugasnya sebagai saksi bisu.

Tidak perlu ditanya. Tidak perlu dipanggil Inspektorat. Tidak perlu dimintai klarifikasi. Sebab, kalau foto itu tiba-tiba bisa bicara, mungkin jawabannya cuma satu, “Oi netizen, ambo cuma foto. Jan diseret-seret ka Drama!”.

Dan begitulah kisahnya. Cinta boleh bikin orang lupa waktu. TikTok boleh bikin video naik View. Algoritma boleh bikin foto ikut terkenal.

Tapi, jabatan tetap punya marwah. Jan sampai kantor Pemerintah kalah Profesional dari konten FYP. Jangan sampai Gubernur Buya Mahyeldi angkat Bicara pula.

Karena kalau foto Wagub Sumbar, Vasko Ruseymi, bisa Viral gara-gara berdiri di belakang adegan, mungkin yang perlu diperiksa bukan cuma kameranya, tetapi juga bagaimana Etika dijaga di depan kamera. Begitulah kiranya.

Catatan: Ade Julay