Kab. Agam, Zona Merah Putih – Kalau olahraga adalah tentang siapa yang paling cepat berlari, paling kuat bertanding, dan paling banyak mencetak prestasi, maka polemik di tubuh KONI Agam belakangan ini justru seperti perlombaan lain. Siapa yang paling cepat mengamankan kursi.

Bedanya, lomba tersebut tidak memakai stopwatch, tidak ada garis finis, dan tentu saja tidak ada medali. Yang diperebutkan adalah posisi. Sementara para atlet yang selama ini berkeringat di lapangan hanya bisa bertanya. Kapan kami boleh kembali fokus berlatih.

Di tengah situasi tersebut, Majelis Pimpinan Cabang (MPC) Pemuda Pancasila Kabupaten Agam menyatakan dukungan terhadap langkah KONI Provinsi Sumatera Barat yang mengambil alih kepengurusan KONI Agam melalui penunjukan tim caretaker.

Dukungan itu disampaikan Ketua MPC Pemuda Pancasila Kabupaten Agam, Rhomy Saputra Caniago, didampingi Komandan Komando Inti (Dankoti) Pemuda Pancasila Agam, Basri, di Lubuk Basung, Minggu (23/8/2026).

Rhomy menilai penerbitan SK Nomor 131 Tahun 2026 yang ditandatangani Ketua Umum KONI Sumbar, Hamdanus, S.Fil.I., M.Si., tertanggal 20 Agustus 2026, merupakan langkah organisasi yang diperlukan untuk memastikan roda KONI Agam kembali berjalan.

SK tersebut menetapkan Revdi Iwan Syahputra sebagai Ketua Caretaker KONI Agam beserta tim kepengurusan sementara.

“Penunjukan saudara Revdi Iwan Syahputra melalui SK KONI Sumbar merupakan salah satu langkah hukum dan organisasi yang sah, tepat, serta mengikat. Ini menjadi kepastian hukum yang sangat dibutuhkan untuk mengembalikan fungsi roda organisasi sebagaimana mestinya”, ujar Rhomy.

Kursi Jangan Sampai Lebih Sibuk daripada Atlet

Rhomy mengingatkan bahwa polemik organisasi tidak boleh membuat persoalan utama olahraga justru terlupakan.

Sebab, atlet tidak pernah bertanding dengan membawa spanduk bertuliskan nama kubu pengurus. Mereka bertanding membawa nama Kabupaten Agam.

Kata Rhomy, Mereka tidak peduli siapa yang duduk di kursi ketua, siapa yang menjadi pengurus, atau siapa yang paling sering menggelar rapat. Yang mereka butuhkan sederhana. Kepastian, Pembinaan, Fasilitas, Dukungan dan Kesempatan untuk bertanding.

“Dinamika organisasi tidak boleh mengorbankan nasib para atlet yang telah bersusah payah berlatih. Hak para atlet untuk bertanding dan membela nama daerah di Porprov Oktober 2026 adalah harga mati dan prioritas tertinggi yang harus kita kawal bersama”, tegasnya.

Kalimat tersebut agaknya layak menjadi alarm bagi seluruh pihak yang sedang sibuk dalam dinamika KONI Agam.

“Sebab kalau sampai atlet lebih sering mendengar kabar tentang SK, caretaker, musyawarah dan perebutan jabatan daripada kabar tentang program latihan dan persiapan Porprov, maka ada yang perlu diluruskan”, ulasnya.

Pesan Rhomy, Jangan sampai organisasi olahraganya sibuk mengurus kursi, sementara atletnya sibuk mencari tahu apakah masih punya panggung untuk bertanding.

Rhomy SC: Jangan Jadikan Porprov sebagai Penonton Konflik

Ketua MPC PP Agam juga sampaikan, jika Ajang Porprov Sumatera Barat yang dijadwalkan berlangsung Oktober 2026 semakin dekat. Artinya, waktu bukan lagi teman yang bisa diajak santai.

“Atlet membutuhkan konsolidasi cepat. Cabang olahraga membutuhkan kepastian. Pelatih membutuhkan dukungan. Kontingen membutuhkan persiapan matang”, tegasnya.

Dalam kondisi seperti itu, setiap energi yang habis untuk konflik internal semestinya dipertanyakan kembali. Apakah benar energi tersebut sedang digunakan untuk kepentingan olahraga.

“Ironinya, atlet bisa berlatih berbulan-bulan demi mengejar sepersekian detik, beberapa sentimeter, atau satu angka tambahan di papan skor. Sementara pengurus bisa menghabiskan waktu berhari-hari memperdebatkan siapa yang paling berhak duduk di kursi”, ujarnya.

Kalau begini, sambungnya, jangan-jangan olahraga Agam membutuhkan satu cabang baru. Lari dari kepentingan pribadi menuju kepentingan atlet.

Rhomy juga mengatakan, pengambil alihan kepengurusan KONI Agam bukan semata persoalan administratif, tetapi harus menjadi momentum pembenahan tata kelola olahraga secara menyeluruh.

Pemuda Pancasila, lanjutnya, siap mendukung terciptanya iklim olahraga yang sehat, transparan dan berintegritas.

“Kami tidak ingin energi daerah terbuang sia-sia akibat konflik internal. Pemuda Pancasila siap berada di garis terdepan untuk bersinergi penuh dengan tim caretaker pimpinan Revdi Iwan Syahputra demi mengamankan masa transisi ini hingga terbentuk kepengurusan definitif yang kredibel, transparan, dan akuntabel”, tambahnya.

Rhomy: Jangan Sampai Atlet Bertanya, ‘Kami Bertanding atau Menunggu Musorkab?’

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi pesan kepada seluruh pemangku kepentingan olahraga di Agam agar tidak memperpanjang polemik yang berpotensi mengganggu persiapan Porprov.

Sebab, kata Rhomy, bagi masyarakat, ukuran keberhasilan KONI bukan seberapa ramai konferensi pers, seberapa panjang perdebatan kepengurusan, atau seberapa panas pertarungan argumentasi.

Ukuran sederhananya adalah berapa banyak atlet Agam yang mampu mengibarkan nama daerah di podium. Kalau atlet berprestasi, masyarakat bangga.

Kalau atlet gagal karena persoalan teknis pertandingan, tentu perlu evaluasi. Tetapi kalau atlet sampai kehilangan kesempatan bertanding karena orang-orang dewasa terlalu sibuk bertengkar soal organisasi, itu bukan lagi sekadar masalah internal.

“Itu sudah menjadi pertanyaan moral. Karena itu, MPC Pemuda Pancasila Agam mendorong caretaker segera melakukan konsolidasi, memastikan administrasi atlet, memperkuat koordinasi cabang olahraga serta mengawal seluruh kebutuhan kontingen menuju Porprov Oktober mendatang”, bebernya.

Pada akhirnya, kursi ketua hanyalah kursi. Ia tidak bisa berlari. Ia tidak bisa mengangkat beban. Ia tidak bisa mencetak gol. Ia juga tidak bisa berdiri di podium menerima medali. Yang bisa melakukan semua itu adalah atlet.

“Maka kalau memang semua pihak benar-benar mengaku memperjuangkan olahraga Agam, barangkali sekarang waktunya membuktikan satu hal sederhana. Berhentilah membuat atlet menjadi penonton dari pertarungan para pengurus”, ucapnya.

Pesan Rhomy, Biarkan para pengurus mengurus organisasi. Biarkan para pelatih melatih. Dan biarkan para atlet melakukan tugas mereka yang paling mulia. Bertanding untuk nama Kabupaten Agam. Sebab, Porprov sudah semakin dekat dan masyarakat tentu lebih ingin melihat medali bertambah, bukan polemik yang tak kunjung selesai. (Ade.A)