Kota Padang, Zona Merah Putih – Di balik medali perunggu Bola Tangan Kabupaten Agam pada Porprov XVI Sumbar 2026, ada nama Fatmiarti, S.Sos, Ketua Pengcab ABTI Kabupaten Agam yang ikut mengawal perjalanan tim hingga mencetak sejarah dengan menembus babak semifinal.

Bagi Fatmiarti, capaian itu bukan sekadar urusan warna medali. Tim yang berangkat dengan persiapan singkat dan berbagai keterbatasan justru mampu membuat kejutan di Rafhely Futsal Padang. Dari sekadar bertanding, Agam akhirnya berdiri di podium.

Perjalanan itu dimulai di Grup B. Tim Bola Tangan Agam tampil dalam empat pertandingan nomor 5×5 putra dan mengumpulkan tujuh poin. Angka tersebut cukup untuk membawa Agam menjadi juara grup sekaligus mengamankan tiket menuju semifinal.

Laga pembuka menghadapi Pasaman Barat berakhir manis. Agam menang 11-7 dan mengamankan dua poin. Start tersebut menjadi sinyal awal bahwa pasukan Fatmiarti datang ke Porprov bukan sekadar untuk memenuhi daftar peserta.

Pertandingan berikutnya menghadapi Kabupaten Solok berlangsung lebih alot. Skor 8-8 membuat kedua tim berbagi angka. Satu poin diamankan, sementara ketegangan pertandingan membuat papan skor seolah ikut menahan napas.

Drama terbesar terjadi saat Agam berhadapan dengan Kepulauan Mentawai. Agam menang tipis 10-9, dengan kemenangan ditentukan pada momen akhir pertandingan. Dua poin kembali dikantongi dan peluang menjadi juara grup semakin terbuka.

Ketika menghadapi Kota Bukittinggi, Agam justru tampil paling produktif. Skor 12-3 menjadi kemenangan telak yang mengunci tambahan dua poin. Total tujuh poin akhirnya menempatkan Agam di puncak Grup B.

Di titik inilah kerja Fatmiarti bersama jajaran Pengcab ABTI, pelatih, atlet dan official mulai menemukan hasilnya. Tim yang mungkin sebelumnya tidak terlalu ramai dibicarakan tiba-tiba menjadi pemuncak grup. Olahraga memang sering punya cara sendiri membuat prediksi malu.

Tiket semifinal kemudian menjadi milik Agam. Namun, di fase ini lawan yang menunggu bukan sembarang tim. Padang Pariaman tampil lebih matang dan berpengalaman, membuat langkah Agam menuju final akhirnya terhenti dengan skor 10-17.

Kekalahan tersebut tidak menghapus perjalanan sebelumnya. Justru karena berhasil menembus semifinal, Bola Tangan Agam memastikan medali perunggu sekaligus mencatat sejarah baru dalam keikutsertaannya pada Porprov.

Fatmiarti menyebut pencapaian itu sebagai sesuatu yang membanggakan sekaligus mengharukan. Menurutnya, perjuangan atlet, pelatih dan official membuktikan bahwa keterbatasan persiapan bukan alasan untuk menyerah sebelum pertandingan dimulai.

“Berhasil menembus babak semifinal adalah sebuah pencapaian yang luar biasa bagi kami. Ini adalah sejarah pertama bagi Bola Tangan Agam di pentas Porprov,” ujar Fatmiarti, Kamis malam, 8 Oktober 2026, di lokasi pertandingan.

Ia bahkan menyebut medali perunggu tersebut bukan sekadar perunggu, tetapi simbol perjuangan, pengorbanan dan air mata seluruh tim. Medali itu dipersembahkan untuk masyarakat Kabupaten Agam, Bupati Agam, Dinas Parpora, KONI Sumbar dan Tim Caretaker KONI Agam.

Pelatih ABTI Agam, Wahyu, juga menilai tujuh poin dari fase grup merupakan buah kerja keras seluruh tim. Kekalahan dari Padang Pariaman menjadi bahan evaluasi sekaligus pelajaran penting menghadapi kompetisi berikutnya.

Bagi Fatmiarti, cerita belum selesai ketika medali perunggu dikalungkan. Justru setelah podium berdiri, pekerjaan rumah ikut menunggu. Pembinaan usia dini di sekolah menjadi salah satu agenda agar bola tangan Agam tidak hanya muncul ketika Porprov datang.

Kini nama Fatmiarti ikut tercatat dalam perjalanan sejarah bola tangan Agam. Ia membawa tim melewati Grup B, mengamankan status juara grup, menembus semifinal dan akhirnya membawa pulang perunggu. Emas memang belum mampir, tetapi Agam sudah membuka pintunya. (Ade.A)