Payakumbuh, Zona Merah Putih – Kalau prestasi bisa berlari sendiri, mungkin MAN 2 Kota Payakumbuh sudah kelelahan mengejarnya. Namun kenyataannya, deretan penghargaan justru terus berdatangan. Di bawah kepemimpinan Dr. Sahidin, S.Ag, M.Pd, prestasi seolah menemukan alamat tetap untuk pulang.
Pada ajang Best of The Best Batiah Scout Competition XX 2026, 24–27 September, Gudep MAN 2 Kota Payakumbuh kembali membuat daftar juara tampak terlalu pendek. Tujuh capaian tercatat, seakan piala memang sengaja disiapkan untuk memenuhi ruang sekolah.
Di nomor PBB Bertongkat, Juara I berhasil diamankan. Barangkali tongkat pun sudah paham bahwa di tangan pasukan MAN 2 Payakumbuh, tugasnya bukan sekadar berdiri tegak, melainkan ikut mengantar pulang prestasi.
Scout Chiper Relay juga menghasilkan Juara I. Ini membuktikan bahwa ketika sandi, kecepatan, dan kekompakan bertemu, pesaing perlu bekerja ekstra keras. Sementara MAN 2 Payakumbuh tampaknya cukup bekerja sama dengan hasil latihan yang matang.
Tak berhenti di sana, kategori We Are The Best menyumbangkan Juara II. Nama lombanya boleh penuh percaya diri, tetapi capaian tersebut menunjukkan kepercayaan diri itu tidak datang dari spanduk semata. Ada latihan, disiplin, dan kerja tim di belakangnya.
Scout Chiper Relay bahkan kembali mencatat Juara II. Ya, satu nama lomba muncul dua kali dalam daftar prestasi, seperti ingin memastikan pembaca tidak salah membaca. Rupanya konsistensi memang sedang menjadi kebiasaan baru di Gudep MAN 2.
Pada kategori Paduan Suara, Juara III berhasil diraih. Harmoni suara para peserta menjadi bukti bahwa kekompakan tidak selalu berbentuk barisan lurus. Kadang, ia hadir melalui nada-nada yang serasi dan latihan yang tidak mengenal alasan.
Senam Pramuka memperoleh Harapan I, sementara Pionering meraih Harapan II. Artinya, bahkan ketika belum berdiri di podium utama, MAN 2 Payakumbuh tetap membawa pulang catatan prestasi. Rupanya, kata “harapan” di sini benar-benar punya masa depan.
Di balik capaian tersebut, ada tangan dingin kepemimpinan Dr. Sahidin, S.Ag, M.Pd, Kepala MAN 2 Kota Payakumbuh. Tangan dingin ini tampaknya tidak digunakan untuk menyimpan tangan di saku, tetapi menggerakkan pembinaan, kedisiplinan, dan budaya berprestasi.
Di lapangan, pembina Detti Yeni, S.Pd.I, Rahima Zakiyah, S.Pd.I, dan Ilhamada Rizki, S.Pd menjadi bagian penting dari proses. Mereka membuktikan bahwa prestasi siswa tidak turun dari langit, melainkan lahir dari pendampingan dan latihan yang serius.
Menariknya, keberhasilan ini tidak berdiri sendirian. MAN 2 Kota Payakumbuh memang kerap menorehkan prestasi di berbagai kesempatan. Sehingga, kalau sekolah lain sibuk mencari formula sukses, sekolah ini tampaknya sedang sibuk mencari tempat tambahan untuk menyimpan piala.
Sederhananya, mungkin yang perlu dikhawatirkan MAN 2 Payakumbuh bukan kekurangan prestasi, melainkan kekurangan rak. Sebab, ketika kepemimpinan konsisten, pembinaan berjalan, dan siswa diberi ruang berkembang, piala bisa datang sebagai konsekuensi yang menyenangkan.
Pada akhirnya, BOBB XX 2026 kembali memperlihatkan satu pola, kepemimpinan yang kuat, pembina yang tekun, dan siswa yang berlatih serius dapat menghasilkan prestasi. MAN 2 Kota Payakumbuh pun kembali menegaskan identitasnya sebagai madrasah yang gemar membuat kejutan positif. (Ade.A)








