ZonaMerahPutih.com/Boalemo – Duka mendalam yang menyelimuti keluarga korban kecelakaan maut yang melibatkan warga Desa Hungayonaa kini berganti menjadi kekecewaan besar. Pihak keluarga secara terbuka menyatakan kekecewaannya atas sikap penabrak yang dinilai sama sekali tidak menunjukkan iktikad baik selama Korban masih di rawat hingga akhirnya mengembuskan napas terakhir.
Diketahui, korban sempat berjuang melawan luka-lukanya selama kurang lebih tiga bulan sejak kecelakaan terjadi. Namun, dalam rentang waktu yang cukup lama tersebut, pihak keluarga mengaku tidak melihat adanya tanggung jawab nyata dari penabrak.
Narasumber yang merupakan anak mantu korban mengungkapkan bahwa baik penabrak maupun keluarganya belum pernah sekalipun mendatangi pihak korban untuk menunjukkan rasa empati. Padahal, selama tiga bulan beberapa kali melakukan perawatan, keluarga korban terus membuka pintu mediasi karena memegang teguh pesan almarhumah untuk mengedepankan cara kekeluargaan.
”Kami menunggu iktikad baik selama tiga bulan ini. Sesuai pesan orang tua kami, jangan mempersulit orang. Makanya kami hanya menuntut mediasi, tapi sampai korban meninggal, keluarga yang menabrak belum pernah datang,” ujar narasumber dengan nada kecewa.
Menanggapi persoalan tersebut, Kepala Desa selaku pihak yang memediasi perkara ini menyatakan bahwa dirinya telah berupaya maksimal dengan berbagai cara untuk menghubungi keluarga penabrak. Namun, ia mengakui bahwa hingga korban meninggal dunia, urusan perbaikan kendaraan bentor milik korban belum mampu diselesaikan oleh pihak penabrak.
Pihak pemerintah desa juga menambahkan bahwa mereka telah beberapa kali meminta secara tegas kepada pihak penabrak untuk terus melakukan komunikasi aktif dengan pihak keluarga korban, namun peringatan tersebut tampaknya diabaikan oleh mereka.
Kekecewaan keluarga semakin memuncak karena janji kesepakatan damai yang sebelumnya disampaikan oleh pihak desa belum bisa dibuktikan secara fisik. Saat keluarga meminta arsip surat pernyataan damai tersebut, dokumen yang dijanjikan tak kunjung diperlihatkan.
”Secara tertulis itu saya tekankan untuk memperlihatkan, tapi sampai sekarang tidak ditemukan. Makanya kami merasa ganjil. Hanya sekadar kalimat saja, tapi buktinya tidak ada,” tambah narasumber.
Melihat kondisi yang terus menggantung selama tiga bulan hingga berujung pada kematian korban, pihak keluarga kini memberikan peringatan keras. Mereka menegaskan tidak akan lagi menoleransi ketidakjelasan ini.
”Jika hal ini tetap tidak bisa dilaksanakan secara musyawarah dan tidak ada pertanggungjawaban nyata, maka kami akan meneruskan persoalan ini ke pihak berwajib agar diproses sesuai hukum yang berlaku,” tegas pihak keluarga.
ZMP Boalemo/Rsy, As








