Kab. Solsel, Zona Merah Putih – Di sebuah tempat yang mungkin tidak selalu muncul dalam percakapan orang-orang kota, ada seorang lelaki bernama Mawardi. Warga lebih akrab memanggilnya Edi. Ia lahir di Batu Laung, 11 Juli 1981, dan tumbuh dari keluarga yang hidup sederhana.
Barangkali politik memang punya cara sendiri mempertemukan seseorang dengan panggung yang tidak pernah dibayangkannya. Edi, anak Batu Laung, akhirnya masuk dalam dinamika Pilwana Nagari Lubuk Ulang Aling Selatan, Kecamatan Sangir Batang Hari, Kabupaten Solok Selatan.
Ia tidak datang membawa cerita tentang perjalanan hidup yang serba mudah. Justru dari keterbatasan itulah pengalaman hidupnya terbentuk. Masa kecil yang sederhana membuatnya mengenal bagaimana rasanya hidup dengan segala keterbatasan fasilitas.
Kini, ketika kesempatan untuk berbuat lebih luas terbuka, Edi membawa dua gagasan utama. Tidak banyak. Hanya dua. Tetapi, seperti memasak gulai, persoalannya bukan banyaknya bahan, melainkan bagaimana mengolah yang sedikit agar benar-benar terasa manfaatnya.
Gagasan pertama adalah melanjutkan kinerja pemerintahan Nagari Lubuk Ulang Aling Selatan yang sedang berjalan. Baginya, pembangunan tidak selalu harus dimulai dengan membongkar apa yang sudah ada. Yang baik dilanjutkan, yang kurang diperbaiki, dan yang belum selesai dituntaskan.
Gagasan kedua menjadi pekerjaan yang jauh lebih panjang. Ketahanan pangan selama delapan tahun. Bukan sekadar slogan yang enak dicetak di spanduk, melainkan gagasan yang menurutnya harus berjalan bersama pembangunan akses dan penguatan ekonomi masyarakat.
Sebab berbicara tentang pangan di Nagari Lubuk Ulang Aling Selatan tentu tidak cukup hanya membicarakan sawah, kebun, ladang dan hasil bumi. Ada persoalan yang lebih tua, bagaimana hasil perkebunan masyarakat bisa keluar dari jorong dan mencapai pasar dengan biaya serta waktu yang lebih masuk akal.
Di titik itulah jalan menjadi persoalan penting. Edi menaruh perhatian pada akses jalan dari jorong ke jorong, termasuk akses menuju sentra perkebunan masyarakat. Sebab hasil kebun akan sulit berkembang apabila jalannya masih menjadi cerita tersendiri.
Secara sederhana, buah dan hasil perkebunan boleh tumbuh subur, tetapi kalau jalan membuat kendaraan berpikir dua kali untuk masuk, maka pembangunan ekonomi bisa berubah menjadi perlombaan antara petani dan kerusakan kendaraan.
Edi juga mengaitkan pembangunan akses dengan terbukanya peluang dukungan pemerintah daerah, termasuk persoalan penerangan. Menurut gagasannya, infrastruktur dasar harus menjadi pintu masuk agar nagari yang berada di kawasan sulit dijangkau tidak terus berada di belakang antrean pembangunan.
Lubuk Ulang Aling Selatan bukan kawasan yang sederhana secara geografis. Dalam narasi Edi, Nagari tersebut menghadapi kondisi ekstrem dan karakter wilayah yang membuat akses menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, pembangunan tidak bisa memakai kacamata yang sama untuk semua nagari.
Ada daerah yang membangun sambil menghitung jarak kilometer. Ada pula daerah yang harus menghitung sungai, medan, waktu tempuh dan kondisi geografis. Di wilayah seperti Lubuk Ulang Aling Selatan, satu ruas jalan bukan sekadar aspal dan batu, ia bisa berarti akses pendidikan, kesehatan dan ekonomi.
Di sinilah kisah seorang anak Batu Laung menemukan hubungannya dengan gagasan pembangunan. Edi membawa pengalaman hidup dari bawah ke dalam percakapan tentang masa depan nagari. Bukan cerita tentang siapa yang paling hebat, melainkan tentang apa yang masih harus dikerjakan.
Tentu saja, setiap gagasan kepemimpinan akan berhadapan dengan pertanyaan yang sama, bagaimana mewujudkannya. Ketahanan pangan delapan tahun membutuhkan perencanaan, anggaran, koordinasi, keterlibatan masyarakat dan hubungan yang kuat dengan pemerintah di atasnya.
Begitu pula pembangunan jalan dan penerangan tidak cukup hanya dengan niat baik. Dibutuhkan data, prioritas, perencanaan teknis, komunikasi pemerintahan dan dukungan masyarakat. Di situlah gagasan untuk memimpin Nagari Lubuk Ulang Aling Selatan diuji, ketika janji bertemu kenyataan dan rencana bertemu keterbatasan.
Mawardi alias Edi kini berada dalam arena Pilwana dengan membawa latar belakang seorang warga yang lahir dan besar di Batu Laung. Dua gagasan yang ia tawarkan menjadi bagian dari percakapan tentang arah Nagari Lubuk Ulang Aling Selatan ke depan.
Pada akhirnya, masyarakatlah yang akan melihat, membandingkan dan menentukan berdasarkan pertimbangan mereka sendiri. Sebab nagari bukan milik seorang calon, bukan pula milik kelompok tertentu. Nagari adalah rumah bersama, dan masa depannya ditentukan oleh seluruh masyarakat. (Ade.A)







