zonamerahputih.com— Palembang, Kegiatan Wirasena Youth Camp 2026 yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan melalui Dispora Provinsi Sumatera Selatan dengan tema “membentuk pemuda berkarakter dan mencetak pemimpin masa depan menjadi momentum penting dalam memperkuat kembali kesadaran generasi muda terhadap peran dan tanggung jawabnya di tengah masyarakat. (01-09-2026)

 

Bagi Hikmi Wahyudi, pemuda tidak cukup hanya menjadi generasi penerus, tetapi harus mampu tampil sebagai generasi penggerak yang berani mengambil peran dan memberikan kontribusi nyata.

Menurut Hikmi, tantangan pemuda hari ini jauh lebih kompleks. Perkembangan teknologi, perubahan sosial, persoalan ekonomi, pendidikan, lingkungan, hingga berbagai problem masyarakat menuntut generasi muda untuk tidak bersikap apatis.

 

“Pemuda tidak boleh hanya menjadi penonton atas persoalan yang terjadi di tengah masyarakat. Kita harus hadir, mendengar, memahami persoalan, kemudian ikut mencari solusi. Karena ukuran keberadaan pemuda bukan hanya seberapa banyak kita berbicara, tetapi seberapa besar manfaat yang mampu kita berikan,” ujar Hikmi Wahyudi

 

Ia menilai, ruang-ruang kepemudaan seperti Wirasena Youth Camp sangat penting untuk membangun karakter generasi muda yang memiliki keberanian, kepedulian sosial, kemampuan kepemimpinan, serta semangat kolaborasi.

Menurutnya, pemuda harus memiliki keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Kehadiran pemuda di tengah masyarakat harus diwujudkan melalui tindakan nyata, baik dalam bidang sosial, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, lingkungan, maupun pembangunan daerah.

“Jangan sampai kita hanya sibuk berbicara tentang perubahan, tetapi tidak pernah turun tangan untuk melakukan perubahan. Pemuda harus mampu mengubah gagasan menjadi gerakan dan mengubah kepedulian menjadi tindakan,” tegasnya.

 

Hikmi juga menekankan bahwa kontribusi pemuda tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Hal-hal sederhana di lingkungan sekitar, seperti membantu masyarakat, menginisiasi kegiatan sosial, memberikan edukasi, menjaga lingkungan, membangun ruang diskusi, serta mengawal kepentingan masyarakat merupakan bagian dari bentuk pengabdian pemuda.

Ia berpandangan bahwa pemuda memiliki tiga modal utama yang harus dimanfaatkan secara positif, yaitu ide, energi, dan keberanian. Ketiga modal tersebut harus diarahkan untuk kepentingan masyarakat dan pembangunan.

 

“Kita punya energi, kita punya gagasan, dan kita punya keberanian. Pertanyaannya sekarang, mau kita gunakan untuk apa? Kalau energi dan gagasan pemuda diarahkan untuk hal-hal produktif, saya yakin pemuda bisa menjadi kekuatan besar dalam menyelesaikan persoalan masyarakat,” ungkap Hikmi.

 

Dalam perspektif Hikmi, menjadi pemuda bukan hanya persoalan usia, tetapi tentang sikap dan keberanian untuk mengambil tanggung jawab. Pemuda harus mampu menjadi jembatan antara masyarakat dengan berbagai pihak, menyuarakan aspirasi secara kritis, sekaligus menawarkan solusi yang konstruktif.

 

Karena itu, ia berharap semangat yang dibangun melalui Wirasena Youth Camp 2026 tidak berhenti setelah kegiatan selesai. Menurutnya, nilai terpenting dari sebuah kegiatan kepemudaan adalah bagaimana peserta mampu membawa pengalaman, pengetahuan, dan jejaring yang diperoleh untuk kemudian diwujudkan dalam aksi nyata di lingkungan masing-masing.

 

“Jangan sampai youth camp hanya menjadi tempat berkumpul, berdiskusi, lalu setelah pulang semuanya selesai. Justru setelah kegiatan inilah perjuangan dan kontribusi itu dimulai. Apa yang kita dapatkan harus dibawa pulang dan diwujudkan menjadi gerakan yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” kata Hikmi.

 

Ia menambahkan, generasi muda harus berani mengambil posisi sebagai agen perubahan, bukan hanya sebagai objek pembangunan. Pemuda harus terlibat dalam proses pembangunan dengan tetap menjunjung nilai kebangsaan, persatuan, kepedulian sosial, dan kepentingan masyarakat.

 

Pada akhirnya, Wirasena Youth Camp 2026 diharapkan menjadi salah satu ruang yang mampu melahirkan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara karakter dan memiliki keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat. Bagi Hikmi Wahyudi, masa depan daerah dan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah, tetapi juga oleh sejauh mana generasi mudanya mau mengambil peran.


“Pemuda jangan menunggu menjadi hebat untuk berkontribusi. Berkontribusilah mulai dari sekarang, dari lingkungan terdekat, dengan kemampuan yang kita punya. Karena perubahan besar selalu dimulai dari keberanian kecil untuk peduli dan bergerak.”

Wirasena Youth Camp 2026 menjadi pengingat bahwa pemuda bukan sekadar generasi penerus, tetapi generasi yang harus mulai memimpin perubahan sejak hari ini.