zonamerahpuuh.com—Palembang, Hari Kebangkitan Nasional yang diperingati setiap tanggal 20 Mei merupakan momentum penting dalam perjalanan bangsa Indonesia.

 

Lahirnya Budi Utomo pada tahun 1908 menjadi simbol bangkitnya kesadaran rakyat Indonesia untuk bersatu, maju, dan memperjuangkan martabat bangsa melalui pendidikan, persatuan, serta perjuangan intelektual.

 

Semangat yang dibawa oleh Budi Utomo bukan sekadar tentang kemerdekaan dari penjajahan, melainkan tentang bagaimana bangsa Indonesia mampu berdiri di atas kekuatan sendiri, mencerdaskan kehidupan rakyat, dan membangun keadilan sosial bagi seluruh masyarakat. Para tokoh pergerakan kala itu percaya bahwa kebangkitan bangsa harus dimulai dari kualitas sumber daya manusia, persatuan pemuda, dan kepedulian terhadap nasib rakyat.

 

Jika melihat keadaan Indonesia hari ini, semangat kebangkitan nasional sebenarnya masih terus hidup. Kemajuan teknologi, akses pendidikan yang semakin luas, tumbuhnya generasi muda kreatif, serta meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap demokrasi menjadi bukti bahwa bangsa ini terus bergerak maju. Anak-anak muda Indonesia kini mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan, ekonomi kreatif, hingga teknologi digital.

 

Namun di sisi lain, masih terdapat berbagai persoalan yang menunjukkan bahwa cita-cita besar Budi Utomo belum sepenuhnya terwujud. Ketimpangan sosial, korupsi, rendahnya kualitas pendidikan di beberapa daerah, konflik kepentingan politik, hingga melemahnya rasa persatuan akibat perbedaan pandangan masih menjadi tantangan besar bangsa ini.

 

Tidak sedikit masyarakat yang masih kesulitan memperoleh keadilan, pekerjaan layak, dan kesejahteraan yang merata.

Di era modern saat ini, bentuk perjuangan memang telah berubah. Jika dahulu melawan penjajahan fisik, maka hari ini perjuangan bangsa adalah melawan kebodohan, kemiskinan, perpecahan, hoaks, serta krisis moral.

 

“Semangat kebangkitan nasional harus dimaknai sebagai semangat untuk membangun bangsa dengan karya nyata, menjaga persatuan, dan mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi maupun golongan” ujar Hikmi.

 

Generasi muda memiliki peran besar untuk melanjutkan cita-cita para pendiri bangsa. Pemuda hari ini tidak cukup hanya aktif di media sosial, tetapi juga harus mampu menjadi pelopor perubahan sosial, penggerak pendidikan, pengawas kebijakan publik, dan penjaga nilai-nilai kebangsaan. Sebab kebangkitan nasional sejatinya bukan hanya peringatan seremonial setiap tahun, melainkan panggilan moral untuk terus memperjuangkan Indonesia yang lebih adil, maju, dan bermartabat.

 

Dengan demikian, keadaan Indonesia hari ini belum sepenuhnya sesuai dengan harapan dan cita-cita Budi Utomo. Akan tetapi, semangat perjuangan itu masih relevan dan tetap menjadi fondasi penting dalam membangun masa depan bangsa.

 

“Hari Kebangkitan Nasional harus menjadi refleksi bersama bahwa perjuangan belum selesai, dan kebangkitan bangsa harus terus diperjuangkan oleh seluruh rakyat Indonesia”, tutup Hikmi.