zonamerahputih.com—Palembang, 05-02-2026, Usia bukan sekadar angka, ia menyimpan guratan perjalanan, merekam tumpukan kenangan dan memotret mozaik peristiwa-peristiwa penting yang menyertainya. Demikian juga dengan HMI. Sepanjang 79 tahun usia HMI merupakan perjalanan panjang bergulat dengan seluk beluk persoalan negeri, berkiprah untuk ibu pertiwi.

Lahir dua tahun setelah kemerdekaan Indonesia dengan diprakarsai Lafran Pane, HMI telah meneguhkan dirinya sebagai anak kandung republik, dengan komitmen keislaman dan keindonesiaan yang selaras.

“Jika kita amati bersama soal realitas yang terjadi pada kondisi tubuh HMI saat ini, kita akan banyak diperhadapkan dengan kondisi organisasi yang terkesan disorientasi dan terjadi kemerosotan dalam pandangan-padangan kritis yang selalu ditawarkannya,” ujar Hikmi.

Hal ini ditandai dengan krisisnya kritik terhadap kekuasaan karena kader-kadernya cenderung ikut serta dalam praktik politik praktis. Wajar saja jika hal itu terjadi dan banyak kader-kader yang bargaining struktural, karena hampir kebanyakan pejabat negara adalah alumni HMI sehingga kebanggaan seperti inilah yang membuat pada kader cenderung lebih dekat dengan kepentingan politik kekuasaan.

Tidak aneh juga, jika kini HMI cenderung tidak mampu memperlihatkan peranan yang sebenarnya sebagai kader ummat dan kader bangsa. Degradasi dan perubahan-perubahan inilah yang kemudian berimplikasi terhadap khittah perjuangan Himpunan Mahasiswa Islam yang katanya organisasi mahasiswa tertua dan paling berperan dalam segala hal, namun secara tidak sadar justru malah petinggi-petinggi dan kader-kadernya sendiri yang menelanjangi marwah tubuh Himpunan ini.

“Komitmen ini mewarnai sikap HMI dalam menghadapi berbagai turbulensi sosial, politik, dan ekonomi di negeri ini, sehingga HMI selalu mampu keluar dari turbulensi tersebut. Tidak berlebihan jika saya menyatakan bahwa genetika HMI adalah keislaman dan keindonesiaan,” tambah Hikmi.

Gejala dalam beberapa dekade terakhir, HMI terjebak dalam pusaran pergolakan internal, yang disibukkan dengan mengurus rumah tangganya sendiri ketimbang merespons persoalan kemasyarakatan dan kebangsaan mutakhir.

Gejolak internal himpunan kerap kali berujung konflik, bahkan berakhir pada dualisme kepengurusan. Gejolak internal ini tidak hanya terjadi pada kepengurusan tingkat nasional, melainkan juga di tingkat badan koordinasi (provinsi) dan cabang (kabupaten/kota).

Fenomena ini tidak hanya khas HMI, tetapi juga terjadi di banyak organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan. Alhasil, HMI sibuk bergumul dengan dirinya sendiri sehingga melewatkan momentum penting kebangsaan dan mengabaikan isu-isu strategis keislaman dan keindonesiaan, termasuk absennya gagasan pembaharuan pemikiran Islam di dalam tubuh himpunan.

Apa sebab gejolak internal yang tak berkesudahan tersebut? Saya menganalisis dua faktor penyebab. Pertama adalah mentalitas konflik telah menjadi kultur yang menubuh dalam organ tubuh himpunan.

Pembentukan mentalitas konflik ini terjadi dalam waktu yang cukup lama, di mana eskalasi kontestasi politik internal tidak disertai dengan kedewasaan berpikir dan kematangan bersikap. Dampaknya adalah ngotot dengan pilihannya masing-masing sehingga terjadi kebuntuan titik temu.

Penyebabnya adalah relasi patronase yang menjerat himpunan. Kontestasi politik internal di HMI sering kali bukan sekadar kompetisi antar kader, melainkan juga kompetisi antar alumni HMI, sehingga menambah kompleksitas anatomi konflik internal himpunan. Akibatnya, gejolak politik internal bertransformasi menjadi konflik internal yang menahun, yang mengganggu produktivitas organisasi.

Apa yang bisa dilakukan HMI agar tidak terjebak dalam pusaran pergolakan internal? Adalah membangun kesadaran baru yang mengedepankan kolaborasi ketimbang konflik, mengutamakan komunikasi ketimbang saling mengintrik, dan mendahulukan menahan diri ketimbang berkonfrontasi.

Membangun kesadaran baru di himpunan dapat ditempuh dengan membentuk ekosistem keadaban berorganisasi yang ditunjang oleh beberapa unsur, yaitu komunikasi yang empatik, saling memahami hak dan kewajiban, bertindak adil dan rasional serta budaya mengendalikan diri.

Dengan ekosistem keadaban berorganisasi yang terbentuk, maka akan terjadi pergeseran paradigma (paradigm shift) dalam mengelola organisasi, dari paradigma konflik ke paradigma kolaborasi.

Karena ini menyangkut pembentukan kesadaran, yang berarti satu tarikan nafas dengan pembentukan karakter kader, maka tidak dapat dilakukan dalam jangka pendek, tetapi dilakukan secara berkesinambungan dalam waktu yang tidak sebentar. Membangun kesadaran baru harus terintegrasi ke dalam kurikulum perkaderan HMI di semua jenjang pelatihan.

Dengan kata lain, training-training di HMI diarahkan untuk membangun kesadaran baru tersebut, sehingga mentalitas konflik dapat dikikis secara perlahan dan generasi konflik dapat segera digantikan dengan generasi kolaboratif.

Alhasil, HMI dapat meneguhkan dirinya sebagai organisasi transformatif, yang selalu agile dan adaptif terhadap perubahan serta senantiasa menjadi lentera di tengah kekalutan persoalan bangsa.

Beberapa ketertinggalan yang sudah cukup dirasakan bersama jelas membuat kita harus benar-bernar merefleksikan diri untuk kembali pada khittah perjuangan yang seseungguhnya. Organisasi ini sudah cukup tua, jika kita analogikan sebagai kapal tua, maka bagaimana caranya untuk kapal tetap berlayar menuju dermaga tujuannya, yaitu dengan memastikan nahkoda dan para awak kapal untuk tetap merawatnya dengan baik.

Kapal boleh saja tua, tapi arah pemikiran nahkoda tak boleh menua, harus banyak gagasan-gagasan baru yang kemudian bisa ditawarkan agar kapal tetap berlayar dengan baik untuk menuju dermaga tujuannya, yaitu “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT”.

Selamat milad HMI Ke-79, panjang napas perjuangan. Izinkan kami tetap mencintai dan terus berjuang untuk mengekalkan harumu, memancarkan pesonamu, melanggengkan perjuangnmu, mengabadikan keelokanmu, dan menjaga marwah baikmu.

Yakinkan dengan Iman, Usahakan dengan Ilmu, Sampaikan dengan Amal. Yakin Usaha Sampai dengan Iman Ilmu dan Amal.

-Hikmi Wahyudi Ketua Bidang Pembinaan Aparatur Organisasi (PAO) HMI Cabang Palembang Masa Khidmat 2025-2026-