Kab. Agam, Zona Merah Putih – Kalau olahraga itu pertandingan, maka KONI Agam, Sumatera Barat, sekarang seperti laga yang wasitnya belum meniup peluit, tetapi kedua kesebelasan sudah sama-sama merasa menang.

Di satu sisi, Carataker KONI Agam mulai bergerak. Rapat dengan sejumlah cabang olahraga digelar sebagai langkah persiapan menghadapi Porprov Sumatera Barat 2026.

Fokusnya jelas merapatkan barisan, memetakan kekuatan Cabor, dan memastikan atlet Agam tidak datang ke arena hanya membawa semangat, Sementara medalinya dititipkan ke kabupaten tetangga.

Namun di sisi lain, muncul babak yang tak kalah menarik. KONI Agam yang disebut telah dibekukan justru tetap menggelar Musorkab, dengan klaim mendapat dukungan dari banyak pengurus Cabang Olahraga.

Nah, ini yang membuat penonton di pinggir dan Masyarakat Kabupaten Agam yang berdiri diluar lapangan mulai garuk-garuk kepala.

“Ini pertandingan resmi atau pertandingan persahabatan?”, begitu mungkin pertanyaan yang muncul banyak di warung kopi.

Kalau satu pihak bilang, “Kami Carataker, mari kita persiapkan Porprov”, sementara pihak lain bilang, “Kami masih punya dukungan cabor dan tetap Musorkab”.

Maka masyarakat Agam dan pubik tentu bertanya, Siapa sebenarnya yang sedang memegang kendali organisasi olahraga Kabupaten Agam saat ini.

Jangan sampai KONI Agam berubah menjadi pertandingan sepak bola yang satu tim memakai jersey merah, satu lagi memakai jersey biru, tetapi keduanya membawa papan skor sendiri.

Yang lebih lucu, kalau benar sama-sama merasa punya dukungan, maka ukuran dukungannya jangan cuma dihitung dari berapa banyak orang yang hadir dalam ruangan.

Sebab dalam organisasi, dukungan bukan sekadar tepuk tangan. Dukungan harus jelas legalitasnya, jelas mandatnya, jelas mekanismenya, dan jelas siapa yang bertanggung jawab.

Kalau tidak, Musorkab bisa berubah menjadi semacam “audisi ketua KONI”, siapa paling banyak membawa suporter dianggap paling menang.

Padahal olahraga mengajarkan hal sederhana, aturan main harus jelas sebelum pertandingan dimulai.

Carataker sekarang sudah bicara soal Porprov. Artinya waktu tidak sedang menunggu konflik organisasi selesai.

Atlet dan cabor justru membutuhkan kepastian. Mereka tidak butuh drama kepengurusan yang episodenya lebih panjang daripada pertandingan lima set.

Coba bayangkan atlet sudah latihan mati-matian, Pelatih sudah menyusun strategi, Cabor sudah mempersiapkan kontingen, tetapi di atas meja masih sibuk bertanya, “KONI yang mana? “, Waduh!.

Atlet bisa-bisa bukan lagi fokus mengejar medali, malah sibuk mencari nomor jersey organisasi.

Karena itu, polemik KONI Agam seharusnya tidak dibiarkan menjadi tontonan berkepanjangan.

Jika memang ada pihak yang merasa memiliki dasar hukum dan dukungan cabor, silakan dibuktikan melalui mekanisme organisasi yang sah.

Jika Carataker memang mendapat mandat untuk menjalankan roda organisasi sampai proses berikutnya, maka kewenangan dan batas tugasnya juga harus dihormati.

Jangan sampai olahraga menjadi korban dari perebutan kursi. Sebab, kursi Ketua KONI tidak akan ikut berlari di lintasan Porprov. Tidak akan mengangkat barbel. Tidak akan mencetak gol. Tidak pula naik podium menerima medali.

Yang bertanding nanti adalah atlet Kabupaten Agam. Mereka yang harusnya menjadi pusat perhatian.

Jadi, kepada para “pemain” Organisasi, pesan dari pinggir lapangan sederhana saja. Kalau mau bertanding, mari bertanding secara fair.

Kalau mau bermusyawarah, mari bermusyawarah sesuai aturan. Jangan sampai KONI Agam punya dua kesebelasan, tetapi atletnya malah disuruh menjadi penonton.

Dan kalau persoalan ini terus berlarut-larut, publik wajar bertanya, Yang sedang dikejar itu prestasi Porprov, atau prestasi mendapatkan kursi.

Karena kalau yang dikejar prestasi, mestinya semua energi diarahkan ke atlet. Kalau yang dikejar kursi, jangan heran kalau masyarakat akhirnya mengambil kursi sendiri di lapau sambil berkata:

“Aduah dong Pak Ketua, pertandingan belum dimulai, tapi pemainnya sudah sibuk rebutan peluit!”.

Catatan: Ade Julay (Ade.A)