zinamerahpuuh.com—PALI – Sekretaris DPD Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) Kabupaten PALI, Rawan, menyampaikan apresiasi atas peran pimpinan DPRD Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), khususnya Ketua DPRD H. Ubaidillah dan Wakil Ketua II DPRD Firdaus Hasbullah, dalam memfasilitasi pertemuan dua tokoh besar daerah, yakni Asgianto dan Heri Amalindo pada momentum Hari Raya Idul Fitri.(25-03-2026)

 

Menurut Rawan, langkah tersebut patut diapresiasi sebagai upaya meredam ketegangan politik dan membuka ruang rekonsiliasi di tengah dinamika yang selama ini cukup tajam di PALI. Ia menilai, peran pimpinan DPRD dalam menjembatani komunikasi politik menunjukkan fungsi kelembagaan yang berjalan dengan baik.

 

Namun, di balik apresiasi tersebut, Rawan mengingatkan agar pertemuan tersebut tidak berhenti sebagai simbol politik tanpa dampak nyata bagi masyarakat.

“Silaturahmi ini tentu kita apresiasi, apalagi difasilitasi langsung oleh Ketua DPRD dan Wakil Ketua II. Tapi jangan sampai ini hanya jadi panggung politik foto senyum, narasi persatuan, tapi rakyat masih berkutat dengan persoalan yang sama dari tahun ke tahun,” tegasnya.

 

Rawan menyoroti bahwa baik kepemimpinan sebelumnya maupun yang berjalan saat ini masih menyisakan banyak persoalan mendasar, mulai dari infrastruktur yang belum merata, minimnya peluang kerja, hingga lambannya realisasi pembangunan.

“Jangan sampai yang bersatu hanya elitnya. Rakyat ini sudah terlalu lama disuguhi janji. Dari periode ke periode, wajah boleh berganti, tapi masalahnya seperti diwariskan tanpa solusi,” sindirnya.

 

Ia bahkan menyebut bahwa masyarakat mulai kehilangan kepercayaan jika rekonsiliasi politik tidak dibarengi dengan perubahan nyata di lapangan.

“Kalau hanya kuat di narasi persatuan tapi lemah di kerja nyata, ini sama saja mempercantik masalah tanpa pernah menyelesaikannya. Rakyat tidak butuh drama politik, rakyat butuh hasil,” Ujar Rawan.

 

Lebih jauh, Rawan menegaskan bahwa jika pertemuan antara dua tokoh besar tersebut benar-benar menjadi awal kolaborasi besar, maka publik berhak menuntut komitmen nyata yang terukur.

“Ini momentum besar, tapi juga ujian besar. Jangan sampai ini hanya jadi sejarah foto bersama, bukan sejarah perubahan. Mau tokoh lama atau baru, kalau pola kerjanya sama hasilnya juga akan tetap stagnan,” tegasnya.

 

Di akhir pernyataannya, Rawan mengajak seluruh pihak, termasuk pimpinan DPRD, untuk memastikan bahwa rekonsiliasi ini tidak berhenti di meja pertemuan, melainkan berlanjut pada kerja nyata yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat PALI.

“Sekarang publik sedang melihat kalau ini hanya seremoni, kepercayaan akan runtuh, tapi kalau ini dibuktikan dengan kerja nyata, PGK akan berdiri di barisan terdepan untuk mengapresiasi,” tutupnya.